
Bahasa Indonesia, betapa menjadi bumerang. Betapa orang-orang menyepelekan dan tak menganggap penting. Selama maksud yang ditujukan sampai, kenapa harus berumit ria dengan gramatikal dan sejenisnya. Lain halnya dengan beberapa media koran yang menjunjung tinggi EYD. Katakanlah Kompas atau media lain yang konsisten memakai tata bahasa yang baik.
Sialnya, orang-orang lebih suka menonton TV ketimbang baca koran.
Paling tidak, saya cukup salut dengan teks yang ada pada film asing lepas. Katakanlah Bioskop Trans TV atau film lepas yang ditayangkan di RCTI atau SCTV. Beberapa kata sudah terkoreksi dengan benar. Seperti mencantumkan kata ‘memedulikan’, ‘memerhatikan’, dan bukan ‘mempedulikan’, ‘memperhatikan’. Sebab Me- akan luluh dengan kata dasar berawalan P. Mungkin sudah saya bahas. Dan kenapa harus ‘memerhatikan’? Ini karena ‘perhati’ adalah kata dasar. Bukan ‘memper’ tambah kata dasar ‘hati’. Ingat deh, saat seseorang bilang, ‘perhatikan’. Jadi bukan imbuhan ‘per-kan’ lalu disisipi hati. Namun kesalahan kata itu sudah menjadi hal biasa dan lumrah digunakan.
Namun saya sadar bahwa jika ada bahasa baku maka ada bahasa nonbaku. Dan tayangan menghibur itu memang bukan kambing hitam yang pantas. Dan tulisan singkat ini akan berujung pada sebuah benang merah, bahwa ketidakkonsistenan adalah cermin dari bangsa ini.
Samandayu
Teks Bahasa yang Fatal dalam Tayangan TV Whooila! unik dan aneh
Reviewer: Administrator Whooila - ItemReviewed: Teks Bahasa yang Fatal dalam Tayangan TV
Rating: 5
Sumber Artikel
Apakah Anda Menyukainya? Jangan lupa Klik Tombol Suka :
![]() |
![]() |
:: Berita Terkait | :: Kirim Komentar Anda :: |
|
:: KOTAK KOMENTAR ANDA ::